Selasa, 19 Januari 2010

ARTIKEL B.INDONESIA

PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA
TERHADAP PERILAKU ANAK YANG KURANG BAIK
Rosiana Mufliva
PGSD 1-B/0902788
PENDAHULUAN
Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orangtuanya. Perkembangan anak pada umumnya meliputi keadaan fisik, emosional sosial dan intelektual. Bila kesemuanya berjalan secara harmonis maka dapat dikatakan bahwa anak tersebut dalam keadaan sehat jiwanya. Dalam perkembangan jiwa terdapat periode-periode kritik yang berarti bahwa bila periode-periode ini tidak dapat dilalui dengan harmonis maka akan timbul gejala-gejala yang menunjukkan misalnya keterlambatan, ketegangan, kesulitan penyesuaian diri kepribadian yang terganggu bahkan menjadi gagal sama sekali dalam tugas sebagai makhluk sosial untuk mengadakan hubungan antar manusia yang memuaskan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang di lingkungannya.
Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menepati kedudukan yang primer dan fundamental, oleh sebab itu keluarga mempunyai peranan yang besar dan vital dalam mempengaruhi kehidupan seorang anak, terutama pada tahap awal maupun tahap-tahap kritisnya. Keluarga yang gagal memberi cinta kasih dan perhatian akan memupuk kebencian, rasa tidak aman dan tindak kekerasan kepada anak-anaknya. Demikian pula jika keluarga tidak dapat menciptakan suasana pendidikan, maka hal ini akan menyebabkan anak-anak terperosok atau tersesat jalannya.
Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar antara 13 sampai 16 tahun atau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973). Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada kondisi tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu (Ekowarni, 1993). Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat keperibadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat yang biasanya disebut dengan kenakalan remaja.
ISI
1.1 Keluarga dan Peranannya dalam Pembentukan Kepribadian Anak
Pengertian keluarga berarti nuclear family yaitu yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah dan ibu secara ideal tidak terpisah tetapi bahu membahu dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai orang tua dan mampu memenuhi tugas sebagai pendidik. Tiap eksponen mempunyai fungsi tertentu. Dalam mencapai tujuan keluarga tergantung dari kesediaan individu menolong mencapai tujuan bersama dan bila tercapai maka semua anggota mengenyam “apakah peranan masing-masing”
Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orang tuanya. Dasar pemikiran dan pertimbangannya adalah sebagai berikut :
1. Keluarga adalah tempat perkembangan awal seorang anak, sejak saat kelahirannya sampai proses perkembangan jasmani dan rohani berikutnya. Bagi seorang anak, keluarga memiliki arti dan fungsi yang vital bagi kelangsungan hidup maupun dalam menemukan makna dan tujuan hidupnya.
2. Untuk mencapai perkembangannya seorang anak membutuhkan kasih sayang, perhatian dan rasa aman untuk berlindung dari orang tuanya. Tanpa sentuhan manusiawi itu anak akan merasa terancam dan penuh rasa takut
3. Keluarga merupakan dunia keakraban seorang anak. Sebab dalam keluargalah dia mengalami pertama-tama mengalami hubungan dengan manusia dan memperoleh representasi dari dunia sekelilingnya. Pengalaman hubungan dengan keluarga semakin diperkuat dalam proses pertumbuhan sehingga melalui pengalaman makin mengakrabkan seorang anak dengan lingkungan keluarga. Keluarga menjadi dunia dalam batin anak dan keluarga bukan menjadi suatu realitas diluar seorang anak akan tetapi menjadi bagian kehidupan pribadinya sendiri. Anak akan menemukan arti dan fungsinya.
4. Dalam keluarga seorang dipertalikan dengan hubungan batin yang satu dengan lainnya. Hubungan itu tidak tergantikan Arti seorang ibu tidak dapat dengan tiba-tiba digantikan dengan orang lain.
5. Keluarga dibutuhkan seorang anak untuk mendorong, menggali, mempelajari dan menghayati nilai-nilai kemanusiaan, religiusitas, norma-norma dan sebagainya. Nilai-nilai luhur tersebut dibutuhkan sesuai dengan martabat kemanusiaannya dalam penyempumaan diri.
6. Pengenalan di dalam keluarga memungkinkan seorang anak untuk mengenal dunia sekelilingnya jauh lebih baik. Hubungan diluar keluarga dimungkinkan efektifitasnya karena pengalamannya dalam keluarga.
7. Keluarga merupakan tempat pemupukan dan pendidikan untuk hidup bermasyarakat dan bernegara agar mampu berdedikasi dalam tugas dan kewajiban dan tanggung jawabnya sehingga keluarga menjadi tempat pembentukan otonom diri yang memiliki prinsip-prinsip kehidupan tanpa mudah dibelokkan oleh arus godaan.
8. Keluarga menjadi fungsi terpercaya untuk saling membagikan beban masalah, mendiskusikan pokok-pokok masalah dan mematangkan segi emosional,
9. Dalam keluarga dapat terealisasi makna kebersamaan, solidaritas, cinta kasih, pengertian, rasa hormat menghormati clan rasa merniliki.
10. Keluarga menjadi pengayoman dalam beristirahat, berekreasi, menyalurkan kreatifitas dan sebagainya. Pengalaman dalam interaksi sosial pada keluarga akan turut menentukan pola tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan diluar keluarganya. Bila interksi sosial didalarn kelompok karena beberapa sebab tidak lancar kemungkinan besar interaksi sosialnya dengan masyarakat pada umumnya juga akan berlangsung dengan tidak wajar.
Keluarga mempunyai peranan dalam proses sosialisasi. Demikian pentingnya peranan keluarga maka disebutkan bahwa kondisi yang menyebabkan peran keluarga dalam proses sosialisasi anak adalah sebagai berikut :
1. Keluarga merupakan kelompok terkecil yang anggotanya berinteraksi to face secara tetap, dalam kelompok demikian perkembangan anak dapat diikuti dengan sesama oleh orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi dalam hubungan sosial lebih mudah terjadi.
2. Orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik anak karena anak merupakan cinta kasih hubungan suami istri. Motivasi yang kuat melahirkan hubungan emosional antara orangtua dan anak.
3. Karena hubungan sosial dalam keluarga itu bersifat relatif tetap maka orangtua memainkan peranan sangat penting terhadap proses sosialisasi anak.
1.2 Kenakalan Remaja dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah Juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis, yang artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja, sedangkan delinquent berasal dari bahasa latin “delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau peneror, durjana dan lain sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anakanak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal.(Kartono, 2003).
Mussen dkk (1994), mendefinisikan kenakalan remaja sebagai perilaku yang melanggar hukum atau kejahatan yang biasanya dilakukan oleh anak remaja yang berusia 16-18 tahun, jika perbuatan ini dilakukan oleh orang dewasa maka akan mendapat sangsi hukum. Hurlock (1973) juga menyatakan kenakalan remaja adalah tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh remaja, dimana tindakan tersebut dapat membuat seseorang individu yang melakukannya masuk penjara.
Sama halnya dengan Conger (1976) & Dusek (1977) mendefinisikan kenakalan remaja sebagai suatu kenakalan yang dilakukan oleh seseorang individu yang berumur di bawah 16 dan 18 tahun yang melakukan perilaku yang dapat dikenai sangsi atau hukuman. Sarwono (2002) mengungkapkan kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana, sedangkan Fuhrmann (1990) menyebutkan bahwa kenakalan remaja suatu tindakan anak muda yang dapat merusak dan menggangu, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Santrock (1999) juga menambahkan kenakalan remaja sebagai kumpulan dari berbagai perilaku, dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial sampai tindakan kriminal.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kenakalan remaja adalah kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain yang dilakukan remaja di bawah umur 17 tahun. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan kenakalan remaja adalah seperti yang dijelaskan di bawah ini.
Faktor-faktor kenakalan remaja menurut Santrock, (1996) lebih rinci dijelaskan sebagai berikut :
1. Identitas
Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Erikson (dalam Santrock, 1996) masa remaja ada pada tahap di mana krisis identitas versus difusi identitas harus di atasi. Perubahan biologis dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi terjadi pada kepribadian remaja yaitu terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan tercapainya identitas peran, kurang lebih dengan cara menggabungkan motivasi, nilai-nilai, kemampuan dan gaya yang dimiliki remaja dengan peran yang dituntut dari remaja.
2. Kontrol diri
Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. Beberapa anak gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang esensial yang sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan. Kebanyakan remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima, namun remaja yang melakukan kenakalan tidak mengenali hal ini. Mereka mungkin gagal membedakan tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima, atau mungkin mereka sebenarnya sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal mengembangkan kontrol yang memadai dalam menggunakan perbedaan itu untuk membimbing tingkah laku mereka.
Hasil penelitian yang dilakukan baru-baru ini Santrock (1996) menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. Pola asuh orangtua yang efektif di masa kanak-kanak (penerapan strategi yang konsisten, berpusat pada anak dan tidak aversif) berhubungan dengan dicapainya pengaturan diri oleh anak. Selanjutnya, dengan memiliki ketrampilan ini sebagai atribut internal akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kenakalan remaja.
3. Usia
Munculnya tingkah laku anti sosial di usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya di masa remaja, namun demikian tidak semua anak yang bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan, seperti hasil penelitian dari McCord (dalam Kartono, 2003) yang menunjukkan bahwa pada usia dewasa, mayoritas remaja nakal tipe terisolir meninggalkan tingkah laku kriminalnya. Paling sedikit 60 % dari mereka menghentikan perbuatannya pada usia 21 sampai 23 tahun.
4. Jenis kelamin
Remaja laki- laki lebih banyak melakukan tingkah laku anti sosial daripada perempuan. Menurut catatan kepolisian Kartono (2003) pada umumnya jumlah remaja laki- laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok gang diperkirakan 50 kali lipat daripada gang remaja perempuan.
5. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah
Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan yang rendah terhadap pendidikan di sekolah. Mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. Mereka tidak mempunyai motivasi untuk sekolah. Riset yang dilakukan oleh Janet Chang dan Thao N. Lee (2005) mengenai pengaruh orangtua, kenakalan teman sebaya, dan sikap sekolah terhadap prestasi akademik siswa di Cina, Kamboja, Laos, dan remaja Vietnam menunjukkan bahwa faktor yang berkenaan dengan orangtua secara umum tidak mendukung banyak, sedangkan sikap sekolah ternyata dapat menjembatani hubungan antara kenakalan teman sebaya dan prestasi akademik.
6. Proses keluarga
Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya (dalam Santrock, 1996) menunjukkan bahwa pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesua i merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar.
7. Pengaruh teman sebaya
Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan risiko remaja untuk menjadi nakal. Pada sebuah penelitian Santrock (1996) terhadap 500 pelaku kenakalan dan 500 remaja yang tidak melakukan kenakalan di Boston, ditemukan persentase kenakalan yang lebih tinggi pada remaja yang memiliki hubungan reguler dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan.

8. Kelas sosial ekonomi
Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan lebih banyak berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah dengan perbandingan jumlah remaja nakal di antara daerah perkampungan miskin yang rawan dengan daerah yang memiliki banyak privilege diperkirakan 50 : 1 (Kartono, 2003). Hal ini disebabkan kurangnya kesempatan remaja dari kelas sosial rendah untuk mengembangkan ketrampilan yang diterima oleh masyarakat. Mereka mungkin saja merasa bahwa mereka akan mendapatkan perhatian dan status dengan cara melakukan tindakan anti sosial. Menjadi “tangguh” dan “maskulin” adalah contoh status yang tinggi bagi remaja dari kelas sosial yang lebih rendah, dan status seperti ini sering ditentukan oleh keberhasilan remaja dalam melakukan kenakalan dan berhasil meloloskan diri setelah melakukan kenakalan.

9. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal
Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka. Masyarakat seperti ini sering ditandai dengan kemiskinan, pengangguran, dan perasaan tersisih dari kaum kelas menengah. Kualitas sekolah, pendanaan pendidikan, dan aktivitas lingkungan yang terorganisir adalah faktor- faktor lain dalam masyarakat yang juga berhubungan dengan kenakalan remaja.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berperan menyebabkan timbulnya kecenderungan kenakalan remaja adalah faktor keluarga yang kurang harmonis dan faktor lingkungan terutama teman sebaya yang kurang baik, karena pada masa ini remaja mulai bergerak meninggalkan rumah dan menuju teman sebaya, sehingga minat, nilai, dan norma yang ditanamkan oleh kelompok lebih menentukan perilaku remaja dibandingkan dengan norma, nilai yang ada dalam keluarga dan masyarakat.
1.3 Pengaruh Keluarga terhadap Kenakalan Remaja
Pengaruh keluarga yang bisa menyebabkan kenakalan remaja adalah :
1. Keluarga yang Broken Home
Masa remaja adalah masa yang dimana seorang sedang mengalami saat kritis sebab ia akan menginjak ke masa dewasa. Remaja berada dalam masa peralihan. Dalam masa peralihan itu pula remaja sedang mencari identitasnya. Dalam proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan dirinya, remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari orang yang dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga menjamin rasa aman maka dalam masa kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan realisasi fungsi tersebut. Sebab dalam masa yang kritis seseorang kehilangan pegangan yang memadai dan pedoman hidupnya. Masa kritis diwarnai oleh konflik-konflik internal, pemikiran kritis, perasaan mudah tersinggung, cita-cita dan kemauan yang tinggi tetapi sukar ia kerjakan sehingga ia frustasi dan sebaginya. masalah keluarga yang broken home bukan menjadi masalah baru tetapi merupakan masalah yang utama dari akar-akar kehidupan seorang anak. Keluarga merupakan dunia keakraban dan diikat oleh tali batin, sehingga menjadi bagian yang vital dari kehidupannya.
Penyebab timbulnya keluarga yang broken home antara lain:
a. Orang tua yang bercerai
Perceraian menunjukkan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar-dasar perkawinan yang telah terbina bersama telah goyah dan tidak mampu menompang keutuhan kehidupan keluarga yang harmonis. Dengan demikian hubungan suami istri antara suami istri tersebut makin lama makin renggang, masing-masing atau salah satu membuat jarak sedemikian rupa sehingga komunikasi terputus sama sekali. Hubungan itu menunjukan situas keterasingan dan keterpisahan yang makin melebar dan menjauh ke dalam dunianya sendiri. jadi ada pergeseran arti dan fungsi sehingga masing-masing merasa serba asing tanpa ada rasa kebertautan yang intim lagi.
b. Kebudayaan bisu dalam keluarga
Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan diikat oleh tali batin. Problem tersebut tidak akan bertambah berat jika kebudayaan bisu terjadi diantara orang yang tidak saling mengenal dan dalam situasi yang perjumpaan yang sifatnya sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak. Bila orang tua tidak memberikan kesempatan dialog dan komunikasi dalam arti yang sungguh yaitu bukan basa basi atau sekedar bicara pada hal-hal yang perlu atau penting saja; anak-anak tidak mungkin mau mempercayakan masalah-masalahnya dan membuka diri. Mereka lebih baik berdiam diri saja. Situasi kebudayaan bisu ini akan mampu mematikan kehidupan itu sendiri dan pada sisi yang sama dialog mempunyai peranan yang sangat penting. Kenakalan remaja dapat berakar pada kurangnya dialog dalam masa kanak-kanak dan masa berikutnya, karena orangtua terlalu menyibukkan diri sedangkan kebutuhan yang lebih mendasar yaitu cinta kasih diabaikan. Akibatnya anak menjadi terlantar dalam kesendirian dan kebisuannya. Ternyata perhatian orangtua dengan memberikan kesenangan materiil belum mampu menyentuh kemanusiaan anak. Dialog tidak dapat digantikan kedudukannya dengan benda mahal dan bagus. Menggantikannya berarti melemparkan anak ke dalam sekumpulan benda mati.
c. Perang dingin dalam keluarga
Dapat dikatakan perang dingin adalah lebih berat dari pada kebudayaan bisu. Sebab dalam perang dingin selain kurang terciptanya dialog juga disisipi oleh rasa perselisihan dan kebencian dari masing-masing pihak. Awal perang dingin dapat disebabkan karena suami mau memenangkan pendapat dan pendiriannya sendiri, sedangkan istri hanya mempertahankan keinginan dan kehendaknya sendiri.
2. Pendidikan yang salah
a. Sikap memanjakan anak
Keluarga mempunyai peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupakan lingkungan pertama dari tempat kehadirannya dan mempunyai fungsi untuk menerima, merawat dan mendidik seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi tempat pendidikan pertama yang dibutuhkan seorang anak. Dan cara bagaimana pendidikan itu diberikan akan menentukan. Sebab pendidikan itu pula pada prinsipnya adalah untuk meletakkan dasar dan arah bagi seorang anak. Pendidikan yang baik akan mengembangkan kedewasaan pribadi anak tersebut. Anak itu menjadi seorang yang mandiri, penuh tangung jawab terhadap tugas dan kewajibannya, menghormati sesama manusia dan hidup sesuai martabat dan citranya. Sebaliknya pendidikan yang salah dapat membawa akibat yang tidak baik bagi perkembangan pribadi anak. Salah satu pendidikan yang salah adalah memanjakan anak. Keadilan orang tua yang tidak merata terhadap anak dapat berupa perbedaan dalam pemberian fasilitas terhadap anak maupun perbedaan kasih sayang. Bagi anak yang merasa diperlakukan tidak adil dapat menyebabkan kekecewaan anak pada orang taunya dan akan merasa iri hati dengan saudara kandungnya. Dalam hubungan ini biasanya anak melakukan protes terhadap orang tuanya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kenakalan.

b. Anak tidak diberikan pendidikan agama
Hal ini dapat terjadi bila orang tua tidak meberikan pendidikan agama atau mencarikan guru agama di rumah atau orang tua mau memberikan pendidikan agama dan mencarikan guru agama tetapi anak tidak mau mengikuti. Bagi anak yang tidak dapat mengikuti pendidikan agama akan cenderung untuk tidak mematuhi ajaran-ajaran agama. Seseorang yang tidak patuh pada ajaran agama mudah terjerumus pada perbuatan keji dan mungkar jika ada faktor yang mempengaruhi seperti perbuatan kenakalan remaja.
3. Anak yang ditolak
Penolakan anak biasanya dilakukan oleh suami istri yang kurang dewasa secara psikis. Misalkan mereka mengharapkan lahirnya anak laki-laki tetapi memperoleh anak perempuan. Sering pula disebabkan oleh rasa tidak senang dengan anak pungut atau anak dari saudara yang menumpang di rumah mereka. Faktor lain karena anaknya lahir dengan keadaan cacat sehingga dihinggapi rasa malu. Anak-anak yang ditolak akan merasa diabaikan, terhina dan malu sehingga mereka mudah sekali mengembangkan pola penyesalan, kebencian, dan agresif. Dalam mengatasi kenakalan remaja yang paling dominan adalah dari keluarga yang merupakan lingkungan yang paling pertama ditemui seorang anak
PENUTUP
Jelaslah bahwa kenakalan remaja sangat dipengaruhi oleh keluarga walaupun faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Faktor keluarga sangatlah penting karena merupakan lingkungan pertama, lingkungan primer. Apabila lingkungan keluarga tidak harmonis yaitu menglami hal-hal yang telah disebutkan diatas seperti keluarga broken home yang disebabkan perceraian, kebudayaan bisu, dan perang dingin serta kesalahan pendidikan akan berpengaruh kepada anak yang dapat menimbulkan kenakalan remaja. Bagaimanapun kenakalan remaja harus dilakukan pengendalian karena apabila berkelanjutan akan menyebabkan kerusakan pada kehidupannya pada masa yang akan datang. Selain dari pihak keluarga pengendalian kenakalan remaja juga harus dilakukan dari lingkungan remaja tersebut.
Disarankan kepada orang tua untuk dapat menjaga hubungan yang hangat dalam keluarga dengan cara saling menghargai, pengertian, dan penuh kasih sayang serta tidak bertengkar di depan anak, sehingga dapat dipersepsi anak sebagai keluarga yang harmonis. Selain keluarga, pihak sekolah juga disarankan agar dapat membantu siswa untuk mengenali potensi-potensi yang dimiliki agar dapat meningkatkan konsep diri siswa, serta dapat meminimalisir penggunaan kata-kata atau sikap yang dapat menurunkan konsep diri siswa.
REFERENSI
The URI to TrackBack this entry is: http://yusufganteng.wordpress.com/2009/03/24/pengaruh-keluarga-terhadap-kenakalan-remaja/trackback/
Widayati,C.Sri.2002.Reformasi Pendidikan Dasar.Jakarta : PT Grasindo
Pujiyogyanti,Clara R.1995.Konsep Diri dalam Pendidikan.Jakarta : PT Arcan

















































































































































































































Erikson percaya bahwa delinkuensi pada remaja terutama ditandai dengan kegagalan remaja untuk mencapai integrasi yang kedua, yang melibatkan aspek-aspek peran identitas. Ia mengatakan bahwa remaja yang memiliki masa balita, masa kanak-kanak atau masa remaja yang membatasi mereka dari berbagai peranan sosial yang dapat diterima atau yang membuat mereka merasa tidak mampu memenuhi tuntutan yang dibebankan pada mereka, mungkin akan memiliki perkembangan identitas yang negatif. Beberapa dari remaja ini mungkin akan mengambil bagian dalam tindak kenakalan, oleh karena itu bagi Erikson, kenakalan adalah suatu upaya untuk membentuk suatu identitas, walaupun identitas tersebut negatif.
2. Kontrol diri
Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. Beberapa anak gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang esensial yang sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan. Kebanyakan remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima, namun remaja yang melakukan kenakalan tidak mengenali hal ini. Mereka mungkin gagal membedakan tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima, atau mungkin mereka sebenarnya sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal mengembangkan kontrol yang memadai dalam menggunakan perbedaan itu untuk membimbing tingkah laku mereka. Hasil penelitian yang dilakukan baru-baru ini Santrock (1996) menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. Pola asuh orangtua yang efektif di masa kanak-kanak (penerapan strategi yang konsisten, berpusat pada anak dan tidak aversif) berhubungan dengan dicapainya pengaturan diri oleh anak. Selanjutnya, dengan memiliki ketrampilan ini sebagai atribut internal akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kenakalan remaja.

3. Usia
Munculnya tingkah laku anti sosial di usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya di masa remaja, namun demikian tidak semua anak yang bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan, seperti hasil penelitian dari McCord (dalam Kartono, 2003) yang menunjukkan bahwa pada usia dewasa, mayoritas remaja nakal tipe terisolir meninggalkan tingkah laku kriminalnya. Paling sedikit 60 % dari mereka menghentikan perbuatannya pada usia 21 sampai 23 tahun.
4. Jenis kelamin
Remaja laki- laki lebih banyak melakukan tingkah laku anti sosial daripada perempuan. Menurut catatan kepolisian Kartono (2003) pada umumnya jumlah remaja laki- laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok gang diperkirakan 50 kali lipat daripada gang remaja perempuan.
5. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah
Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan yang rendah terhadap pendidikan di sekolah. Mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. Mereka tidak mempunyai motivasi untuk sekolah. Riset yang dilakukan oleh Janet Chang dan Thao N. Lee (2005) mengenai pengaruh orangtua, kenakalan teman sebaya, dan sikap sekolah terhadap prestasi akademik siswa di Cina, Kamboja, Laos, dan remaja Vietnam menunjukkan bahwa faktor yang berkenaan dengan orangtua secara umum tidak mendukung banyak, sedangkan sikap sekolah ternyata dapat menjembatani hubungan antara kenakalan teman sebaya dan prestasi akademik.
6. Proses keluarga
Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya (dalam Santrock, 1996) menunjukkan bahwa pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesua i merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar.
7. Pengaruh teman sebaya
Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan risiko remaja untuk menjadi nakal. Pada sebuah penelitian Santrock (1996) terhadap 500 pelaku kenakalan dan 500 remaja yang tidak melakukan kenakalan di Boston, ditemukan persentase kenakalan yang lebih tinggi pada remaja yang memiliki hubungan reguler dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan.

8. Kelas sosial ekonomi
Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan lebih banyak berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah dengan perbandingan jumlah remaja nakal di antara daerah perkampungan miskin yang rawan dengan daerah yang memiliki banyak privilege diperkirakan 50 : 1 (Kartono, 2003). Hal ini disebabkan kurangnya kesempatan remaja dari kelas sosial rendah untuk mengembangkan ketrampilan yang diterima oleh masyarakat. Mereka mungkin saja merasa bahwa mereka akan mendapatkan perhatian dan status dengan cara melakukan tindakan anti sosial. Menjadi “tangguh” dan “maskulin” adalah contoh status yang tinggi bagi remaja dari kelas sosial yang lebih rendah, dan status seperti ini sering ditentukan oleh keberhasilan remaja dalam melakukan kenakalan dan berhasil meloloskan diri setelah melakukan kenakalan.

9. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal
Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka. Masyarakat seperti ini sering ditandai dengan kemiskinan, pengangguran, dan perasaan tersisih dari kaum kelas menengah. Kualitas sekolah, pendanaan pendidikan, dan aktivitas lingkungan yang terorganisir adalah faktor- faktor lain dalam masyarakat yang juga berhubungan dengan kenakalan remaja.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berperan menyebabkan timbulnya kecenderungan kenakalan remaja adalah faktor keluarga yang kurang harmonis dan faktor lingkungan terutama teman sebaya yang kurang baik, karena pada masa ini remaja mulai bergerak meninggalkan rumah dan menuju teman sebaya, sehingga minat, nilai, dan norma yang ditanamkan oleh kelompok lebih menentukan perilaku remaja dibandingkan dengan norma, nilai yang ada dalam keluarga dan masyarakat.
1.3 Pengaruh Keluarga terhadap Kenakalan Remaja
Pengaruh keluarga yang bisa menyebabkan kenakalan remaja adalah :
1. Keluarga yang Broken Home
Masa remaja adalah masa yang dimana seorang sedang mengalami saat kritis sebab ia akan menginjak ke masa dewasa. Remaja berada dalam masa peralihan. Dalam masa peralihan itu pula remaja sedang mencari identitasnya. Dalam proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan dirinya, remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari orang yang dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga menjamin rasa aman maka dalam masa kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan realisasi fungsi tersebut. Sebab dalam masa yang kritis seseorang kehilangan pegangan yang memadai dan pedoman hidupnya. Masa kritis diwarnai oleh konflik-konflik internal, pemikiran kritis, perasaan mudah tersinggung, cita-cita dan kemauan yang tinggi tetapi sukar ia kerjakan sehingga ia frustasi dan sebaginya. masalah keluarga yang broken home bukan menjadi masalah baru tetapi merupakan masalah yang utama dari akar-akar kehidupan seorang anak. Keluarga merupakan dunia keakraban dan diikat oleh tali batin, sehingga menjadi bagian yang vital dari kehidupannya.
Penyebab timbulnya keluarga yang broken home antara lain:
a. Orang tua yang bercerai
Perceraian menunjukkan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar-dasar perkawinan yang telah terbina bersama telah goyah dan tidak mampu menompang keutuhan kehidupan keluarga yang harmonis. Dengan demikian hubungan suami istri antara suami istri tersebut makin lama makin renggang, masing-masing atau salah satu membuat jarak sedemikian rupa sehingga komunikasi terputus sama sekali. Hubungan itu menunjukan situas keterasingan dan keterpisahan yang makin melebar dan menjauh ke dalam dunianya sendiri. jadi ada pergeseran arti dan fungsi sehingga masing-masing merasa serba asing tanpa ada rasa kebertautan yang intim lagi.
b. Kebudayaan bisu dalam keluarga
Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan diikat oleh tali batin. Problem tersebut tidak akan bertambah berat jika kebudayaan bisu terjadi diantara orang yang tidak saling mengenal dan dalam situasi yang perjumpaan yang sifatnya sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak. Bila orang tua tidak memberikan kesempatan dialog dan komunikasi dalam arti yang sungguh yaitu bukan basa basi atau sekedar bicara pada hal-hal yang perlu atau penting saja; anak-anak tidak mungkin mau mempercayakan masalah-masalahnya dan membuka diri. Mereka lebih baik berdiam diri saja. Situasi kebudayaan bisu ini akan mampu mematikan kehidupan itu sendiri dan pada sisi yang sama dialog mempunyai peranan yang sangat penting. Kenakalan remaja dapat berakar pada kurangnya dialog dalam masa kanak-kanak dan masa berikutnya, karena orangtua terlalu menyibukkan diri sedangkan kebutuhan yang lebih mendasar yaitu cinta kasih diabaikan. Akibatnya anak menjadi terlantar dalam kesendirian dan kebisuannya. Ternyata perhatian orangtua dengan memberikan kesenangan materiil belum mampu menyentuh kemanusiaan anak. Dialog tidak dapat digantikan kedudukannya dengan benda mahal dan bagus. Menggantikannya berarti melemparkan anak ke dalam sekumpulan benda mati.
c. Perang dingin dalam keluarga
Dapat dikatakan perang dingin adalah lebih berat dari pada kebudayaan bisu. Sebab dalam perang dingin selain kurang terciptanya dialog juga disisipi oleh rasa perselisihan dan kebencian dari masing-masing pihak. Awal perang dingin dapat disebabkan karena suami mau memenangkan pendapat dan pendiriannya sendiri, sedangkan istri hanya mempertahankan keinginan dan kehendaknya sendiri.
2. Pendidikan yang salah
a. Sikap memanjakan anak
Keluarga mempunyai peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupakan lingkungan pertama dari tempat kehadirannya dan mempunyai fungsi untuk menerima, merawat dan mendidik seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi tempat pendidikan pertama yang dibutuhkan seorang anak. Dan cara bagaimana pendidikan itu diberikan akan menentukan. Sebab pendidikan itu pula pada prinsipnya adalah untuk meletakkan dasar dan arah bagi seorang anak. Pendidikan yang baik akan mengembangkan kedewasaan pribadi anak tersebut. Anak itu menjadi seorang yang mandiri, penuh tangung jawab terhadap tugas dan kewajibannya, menghormati sesama manusia dan hidup sesuai martabat dan citranya. Sebaliknya pendidikan yang salah dapat membawa akibat yang tidak baik bagi perkembangan pribadi anak. Salah satu pendidikan yang salah adalah memanjakan anak. Keadilan orang tua yang tidak merata terhadap anak dapat berupa perbedaan dalam pemberian fasilitas terhadap anak maupun perbedaan kasih sayang. Bagi anak yang merasa diperlakukan tidak adil dapat menyebabkan kekecewaan anak pada orang taunya dan akan merasa iri hati dengan saudara kandungnya. Dalam hubungan ini biasanya anak melakukan protes terhadap orang tuanya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kenakalan.

b. Anak tidak diberikan pendidikan agama
Hal ini dapat terjadi bila orang tua tidak meberikan pendidikan agama atau mencarikan guru agama di rumah atau orang tua mau memberikan pendidikan agama dan mencarikan guru agama tetapi anak tidak mau mengikuti. Bagi anak yang tidak dapat mengikuti pendidikan agama akan cenderung untuk tidak mematuhi ajaran-ajaran agama. Seseorang yang tidak patuh pada ajaran agama mudah terjerumus pada perbuatan keji dan mungkar jika ada faktor yang mempengaruhi seperti perbuatan kenakalan remaja.
3. Anak yang ditolak
Penolakan anak biasanya dilakukan oleh suami istri yang kurang dewasa secara psikis. Misalkan mereka mengharapkan lahirnya anak laki-laki tetapi memperoleh anak perempuan. Sering pula disebabkan oleh rasa tidak senang dengan anak pungut atau anak dari saudara yang menumpang di rumah mereka. Faktor lain karena anaknya lahir dengan keadaan cacat sehingga dihinggapi rasa malu. Anak-anak yang ditolak akan merasa diabaikan, terhina dan malu sehingga mereka mudah sekali mengembangkan pola penyesalan, kebencian, dan agresif. Dalam mengatasi kenakalan remaja yang paling dominan adalah dari keluarga yang merupakan lingkungan yang paling pertama ditemui seorang anak. Di dalam menghadapi kenakalan anak pihak orang tua kehendaknya dapat mengambil dua sikap bicara yaitu:
1. Sikap atau cara yang bersifat preventif
Yaitu perbuatan/tindakan orang tua terhadap anak yang bertujuan untuk menjauhkan si anak daripada perbuatan buruk atau dari lingkungan pergaulan yang buruk. Dalam hat sikap yang bersifat preventif, pihak orang tua dapat memberikan atau mengadakan tindakan sebagai berikut :
a. Menanamkan rasa disiplin dari ayah terhadap anak.
b. Memberikan pengawasan dan perlindungan terhadap anak oleh ibu.
c. Pencurahan kasih sayang dari kedua orang tua terhadap anak.
d. Menjaga agar tetap terdapat suatu hubungan yang bersifat intim dalam satu ikatan keluarga.
Disamping keempat hal yang diatas maka hendaknya diadakan pula:
a. Pendidikan agama untuk meletakkan dasar moral yang baik dan berguna.
b. Penyaluran bakat si anak ke arab pekerjaan yang berguna dan produktif.
c. Rekreasi yang sehat sesuai dengan kebutuhan jiwa anak.
d. Pengawasan atas lingkungan pergaulan anak sebaik-baiknya.
2. Sikap atau cara yang bersifat represif
Yaitu pihak orang tua hendaknya ikut serta secara aktif dalam kegiatan sosial yang bertujuan untuk menanggulangi masalah kenakalan anak seperti menjadi anggota badan kesejahteraan keluarga dan anak, ikut serta dalam diskusi yang khusus mengenai masalah kesejahteraan anak-anak. Selain itu pihak orang tua terhadap anak yang bersangkutan dalam perkara kenakalan hendaknya mengambil sikap sebagai berikut :
a. Mengadakan introspeksi sepenuhnya akan kealpaan yang telah diperbuatnya sehingga menyebabkan anak terjerumus dalam kenakalan.
b. Memahami sepenuhnya akan latar belakang daripada masalah kenakalan yang menimpa anaknya.
c. Meminta bantuan para ahli (psikolog atau petugas sosial) di dalam mengawasi perkembangan kehidupan anak, apabila dipandang perlu.
d. Membuat catatan perkembangan pribadi anak sehari-hari.
baik. Berbeda dengan anak yang tidak men dapatkan pengawasan atau peran keluarganya kurang besar terhadap kehidupannya, anak tersebut cenderung pendiam dan berperilaku bebas. Bahkan, bisa di luar kendali. Sehingga karakter anak tersebut bisa dikatakan kurang baik.
tetapi, belum tentu bagi anak yang lain hal tersebut menarik perhatiannya. Oleh karena itu sangat terlihat perbedaanya antara anak yang perilakunya biasa saja dengan anak yang perilakunya kurang baik. Dan guru harus lebih tanggap terhadap perbedaan tersebut agar tidak terjadi ketidaknyamanan di dalam proses pembelajaran.
PENUTUP
Jelaslah bahwa kenakalan remaja sangat dipengaruhi oleh keluarga walaupun faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Faktor keluarga sangatlah penting karena merupakan lingkungan pertama, lingkungan primer. Apabila lingkungan keluarga tidak harmonis yaitu menglami hal-hal yang telah disebutkan diatas seperti keluarga broken home yang disebabkan perceraian, kebudayaan bisu, dan perang dingin serta kesalahan pendidikan akan berpengaruh kepada anak yang dapat menimbulkan kenakalan remaja. Bagaimanapun kenakalan remaja harus dilakukan pengendalian karena apabila berkelanjutan akan menyebabkan kerusakan pada kehidupannya pada masa yang akan datang. Selain dari pihak keluarga pengendalian kenakalan remaja juga harus dilakukan dari lingkungan remaja tersebut.
Disarankan kepada orang tua untuk dapat menjaga hubungan yang hangat dalam keluarga dengan cara saling menghargai, pengertian, dan penuh kasih sayang serta tidak bertengkar di depan anak, sehingga dapat dipersepsi anak sebagai keluarga yang harmonis. Selain keluarga, pihak sekolah juga disarankan agar dapat membantu siswa untuk mengenali potensi-potensi yang dimiliki agar dapat meningkatkan konsep diri siswa, serta dapat meminimalisir penggunaan kata-kata atau sikap yang dapat menurunkan konsep diri siswa.
REFERENSI
The URI to TrackBack this entry is: http://yusufganteng.wordpress.com/2009/03/24/pengaruh-keluarga-terhadap-kenakalan-remaja/trackback/
Widayati,C.Sri.2002.Reformasi Pendidikan Dasar.Jakarta : PT Grasindo
Pujiyogyanti,Clara R.1995.Konsep Diri dalam Pendidikan.Jakarta : PT Arcan
PENGARUH KOMIK TERHADAP ANAK

Ayu Pipit Fitriyani
0902901

PENDAHULUAN

Dewasa ini buku bacaan untuk anak-anak di tanah air dapat dikatakan didomiasi oleh buku hasil terjemahan dari bahasa asing, salah satunya komik. Komik merupakan cerita rangkaian gambar yang terpisah-pisah tetapi berkaita denga isi ceritanya mdapat dilengkapi dengan maupun tanpa naskah. Komik merupakan karya sei yang khas dengan menggabungka sei menggambar, seni bercerita, dan seni tulis. Bahkan disebut-sebut komik sebagai “pintu masuk”utuk kwsenangan anak membaca. Maraknya komik di kalangan anak-anak merupakan dampak dari era globalisas. Jika anak-anak tidak dikenalkan dengan cerita asli Indonesia maka mereka akn semakin jauh dari akar budaya bangsanya. Begitu gemarnya anak dengan komik bahkan ada yang sampai kecanduan. Setiap ada kesempatan dihabiskan untuk membaca komik. Jika sudah membaca, mereka sulit dialihkan kegiatannya. Banyak aktivitas tertunda. Mereka jadi malas mandi, malas belajar, malas makan, dan sebagainya. Hal ini tentu saja menimbulkan masalah. Anak jadi kurang bisa mengendalikan diri, sering pula terjadi, anak jadi sering meniru semua kebiasaan tokoh dalam komik. Jika yang ditiru adalah kebiasaan baik, maka tidak ada masalah. Namun berbeda jika anak menjadi meniru kebiasaan buruk.

ISI

Pengaruh karakteristik komik terhadap anak

Satu aspek yang penting di sebuah komik adalah penggambaran tokohnya. Kekuatan gambar menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Imajinasi mereka muncul saat melihat gambar dan membaca naskahnya. Penggambaran dalam bentuk gambar dan tulisa itu merupakan tuangan ide pengarang untuk menunjukkan mana tokoh utama dan mana tokoh penunjang, mana yang berperan protagonist dan peran antagonis, atau bahkan tokoh digambarkan memiliki dua sifat tersebut. Komik dianggap sebagai media yang ampuh untuk menyampaikan ilai-nilai, maka perlu adanya selektifitas dari orang tua dan perlunya meluangkan waktu untuk membicarakan semua teks secara detailsehingga dapat merangsang minat anak, juga memperkaya dan mengembangkan pengetahuan anak.




Dampak positif komik

• Komik mendorong kita untuk mengoptimalkan mata untuk mencermati panel-panel dan teks yang disertakan.
• Merupakan salah satu contoh pemanfaatan gambar untuk memperkenalkan suatu konsep tertentu, dalam hal ini alfabet.
• Sangat bermanfaat dan menolong karena menghadirkan nuansa balajar yang menyenangkan bersama tokoh kesayangan.
• Alur cerita yang dituangkan dalam panel-panel gambar akan membantu mereka melihat jalan cerita. Ilustrasi-ilustrasi yang sesuai dalam sebuah komik jelas membantu anak-anak maupun mereka yang ingin menikmati sebuah cerita.
• Mengajarkan nilai-nilai moral. Seperti nilai persahabatan, nilai kerja keras, nilai kebersamaan, kegigihan, dan semangat pantang menyerah, dll.
• Merupakan sarana hiburan yang tidak memakan waktu.

Dampak negatif komik
• Tidak mampu menikmati dan mengapresiasi karya-karya sastra.
• Komik membatasi bahakan memungkinkan penumpulan imajinasi.
• Komik menimbulkan efek adektif, artinya efek yang timbul bisa berupa keinginan untuk segera menikmati seri sambungan (umumnya karena penasaran). Efeknya, selain menghabiskan banyak dana untuk menyewa atau membeli edisi demi edisi, rasa penasaran juga bis amendorong kita untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama komik.
• Komik lebih eksplisit menggambarkan adegan. Adegan-adegan kekerasan bernuansa pornografi juga tergambar dengan lebh jelas dalam komik. Hal ini sudah pasti tidak akan baik bila dikonsumsi oleh anak-anak dibawah umur. Beberapa komik juga mengikuti praktik atau kebiasaan yang berkenan erat dengan okultisme (misalnya pada komik seri-seri misteri).

PENUTUP

pemaparan di atas pada dasarnya bertujuan untuk mengingatkan bahwa komik merupakn sarana hiburan untuk mengisi waktu luang, juga mengingatkan agar para penikmat konik pun bersikap bijaksana dalam menikmati komik. Sama seperti radio dan televisi, komik juga berdampak besar dalam membentuk manusia. Komik merupakan jenis hiburan yang mudah dibaca. Apalagi karakter dan plotnya mengesankan, ilustrasinya juga mudah diingat. Selama penulis masih terus memproduksi komik dan pembaca masih menanti kisah-kisah dalam planel bergambar, komik tidak akan pernah lenyap.


REFERENSI

Suprawati, N. 2008. “Manfaatkan Komik, Anak Pun Berkembang”. Yogyakarta.
Kurnia, R. S. 2008. “Menggali Nilai dari Jalinan Gambar”. [online]. Tersedia: http://penulislepas.com. [28 Oktober 2009].
Dongeng sebagai Media Pembelajaran Anak
Rianita Puspita Sari
NIM: 0902900, PGSD I-B

Pendahuluan

Pada zaman modern yang serba canggih seperti sekarang ini, di Indonesia dan banyak negara lainnya, sudah sedikit sekali anak-anak yang membaca atau mengenal dongeng. Begitu pula sudah jarang sekali kita menemukan orang tua yang membacakan dongeng sebelum tidur (Bed time story) kepada anak-anaknya. Dongeng dianggap tidak menarik, membosankan, dan kuno apabila dibandingkan dengan televisi, video game, dan komputer. Anak-anak lebih memilih berjam-jam menonton televisi dan bermain video game daripada hanya beberapa menit membaca dongeng. Padahal dongeng, yang mereka anggap tidak menarik itu, merupakan salah satu media pembelajaran yang memiliki banyak manfaat. Dongeng memberikan manfaat yang mungkin hanya sedikit kita dapatkan dari hal menarik lainnya. Woolfson (2009) mengemukakan bahwa “Hasil riset kami menunjukkan bahwa mendongeng merupakan aktivitas tradisional yang jitu bagi proses belajar dan melatih aspek emosional dalam kehidupan anak-anak,”.

Manfaat-manfaat dongeng

Pertama, dongeng dapat mempererat ikatan komunikasi antara pendengar dan pembaca. Apabila orang tua membacakan dongeng kepada anaknya, itu dapat mempererat komunikasi mereka. Karena pada saat itu perhatian anak hanya terfokus pada cerita yang dibacakan dan orang yang membacakan cerita tersebut. Selain itu, mendongeng adalah salah satu bentuk perhatian yang dapat diberikan orang tua terhadap anaknya. Beberapa menit yang sangat berharga untuk mempererat hubungan orang tua dan anaknya. Sebagaimana dikemukakan oleh Mulyadi (2006) bahwa “Besarkan anak dengan dongeng dan senyum”.
Kedua, dongeng dapat mengasah daya pikir dan imajinasi anak. Ketika mendengar atau membaca dongeng, anak akan memvisualisasikan cerita tersebut sesuai dengan imajinasinya. Mereka dapat menciptakan imajinasi yang luar biasa, mungkin lebih hebat daripada yang ditayangkan di televisi. Imajinasi adalah hal yang sangat penting. Mohammed Ali mengatakan “Orang yang tidak pernah menggunakan imajinasinya laksana burung tanpa sayap”. Bagaimana burung dapat terbang tanpa sayap? Begitu pula seorang anak. Dia tidak dapat berkembang dan meraih apa yang diharapkannya apabila dia tidak pernah memimpikannya. Ketika dia berimajinasi, dia juga akan berusaha untuk mewujudkan imajinasinya. Lama kelamaan anak dapat melatih kreativitas mereka dengan cara ini. Selain itu, anak dapat menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk terus berusaha menggapai impiannya.
Ketiga, dongeng merupakan media efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika. Seperti kejujuran, kesetiakawanan, rendah hati, kerja keras dan kebiasaan lainnya yang dapat mereka temukan di kehidupan nyata. Dongeng juga dapat menumbuhkan empati pada diri anak. Mereka mengetahui bagaimana memahami perasaan orang lain, membedakan mana yang baik atau mana yang tidak baik, dan mereka dapat mempelajari norma-norma yang ada pada lingkungan masyarakat. Dengan cara ini, diharapkan anak lebih mudah memahami berbagai nilai. Karena dongeng tidak bersifat menggurui melainkan tokoh dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi teladan bagi anak.
Keempat, langkah awal menumbuhkan minat baca pada anak. Ketika mereka mulai tertarik mengetahui lebih banyak dongeng yang dibacakan orang lain kepada mereka, mereka akan tertarik untuk membaca cerita itu sendiri. Karena mereka tidak akan sabar menunggu orang lain membacakannya untuk mereka. Dongeng juga dapat menambah pembendaharaan kata pada anak, terutama anak-anak yang baru belajar membaca. Dalam sebuah kisah dongeng saja, itu dapat mengajarkan banyak kata pada anak-anak. Dengan cara yang mudah dipahami dan bersifat menghibur. Selain itu, dongeng dapat mengurangi trauma pada anak. Misalnya, pada anak-anak korban banjir, gempa, atau tsunami. Mereka biasanya menjadi murung dan pendiam. Oleh karena itu, dongeng merupakan salah satu cara yang efektif untuk anak tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh Haris (2009, Kompas) bahwa:
Cara yang ampuh untuk menghilangkan kesedihan ataupun trauma pada anak adalah dengan mengajaknya bermain dan menceritakan hal-hal yang menyenangkan. Dongeng inilah diberikan untuk anak-anak korban gempa disejumlah tempat.

Menjadikan dongeng menarik

Dongeng merupakan hal yang sangat menarik apabila orang yang membacakan dongeng tersebut dapat membacakan dongeng sekreatif mungkin. Karena keberhasilan suatu dongeng, tergantung pada bagaimana pembaca mengisahkan dongeng tersebut agar tidak membosankan dan mudah dipahami anak-anak. Misalnya, ketika menceritakan dongeng, kita dapat menggunakan boneka tangan sebagai tokoh dalam dongeng. Kita juga dapat melibatkan pelajar dalam menceritakan dongeng di dalam kelas. Tokoh-tokoh dalam dongeng dapat diperankan oleh pelajar-pelajar tersebut. Kita juga dapat menyisipkan nyanyian dan tarian untuk meningkatkkan minat anak kepada dongeng. Selain itu, dongeng juga dapat dipentaskan oleh pelajar-pelajar di depan orang tua mereka dalam acara yang diadakan sekolah.

Apakah dongeng masih ada?

Sebenarnya dongeng tidak hilang secara keseluruhan. Beberapa orangtua tidak melupakan pentingnya dongeng bagi anak-anak mereka. Dongeng masih merupakan suatu hal yang sangat menarik Di beberapa negara, dongeng tetap menjadi favorit bagi anak-anak. Woolfson (2009) mengungkapkan bahwa “Sebuah survey yang dilakukan terhadap 500 anak usia 3-8 tahun di Inggris mengungkapkan, hampir 2/3 anak menginginkan orangtuanya membacakan cerita sebelum tidur, terutama cerita yang dibacakan ibunya ketimbang sang ayah”. Begitu pula di sekolah, masih banyak guru yang menjadikan dongeng sebagai salah satu media pembelajaran bagi anak didik mereka. Seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa “Guru-guru hebat mengajar dengan dongeng”.

Kesimpulan

Keberadaan dongeng merupakan salah satu hal penting dalam perkembangan anak. Selain sebagai hiburan, dongeng juga dapat membantu orang tua dan guru dalam membentuk kepribadian anak. Dongeng merupakan langkah awal agar anak gemar membaca dan salah satu wadah mengembangkan imajinasi anak yang menakjubkan. Bahkan dongeng dapat menjadi salah satu cara bagi kita dalam mangatasi trauma pada anak.

Referensi

Nurhidayat. 2005. Nasihat Tokoh-Tokoh Terkenal Dunia. Bandung: CV.NUANSA AULIA
Haris, Abdul. 2009. “Hilangkan Trauma Dengan Dongeng” [online]. Tersedia: www.fotodetik.com [27 Oktober 2009]
Woolfson, Richard. 2009. “Pentingnya Bertanya Pada Saat Mendongeng” [online]. Tersedia: www.lifestyle.okezone.com
Mulyadi, Seto. 2006. “Besarkan Anak Dengan Dongeng dan Senyum” [online]. Tersedia: www.antara.co.id
www.harian-aceh.com
www.wikipedia.com

PENGARUH ANAK YANG SUKA MENONTON TAYANGAN TELEVISI

ADE SRI RAHAYU

0902955 PGSD 1B

PENDAHULUAN

Suatu hal yang pasti televisi memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan anak. Anak-anak yang waktunya banyak dihabiskan untuk menonton televise dapat berakibat yang fatal, yaitu kemunduran dalam berfikir yang logis. Hal ini berdampak pada anak yang berakibat hanya menerima, kurang kreatif dan sebagainya. Kebanyakan mereka cenderung menjadi suka marah-marah, agresif bahkan mereka juga cenderung meniru aktor-aktor yang akting dalam tayangan tersebut. Kecenderungan meningkatkan kekerasan dan perilaku negative lainnya. Pada anak diduga sebagai dampak gencarnya televisi. Karena media ini memiliki potensi besar dalam merubah sikap da perilku masyarakat terutama anak-anak yang relative masih mudah terpengaruh dan dipengaruhi. Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa tayangan televisi bisa mempengaruhi perilaku anak dan juga sebaliknya tidak berpengaruh apa-apa. Oleh karena itu penangkal yang paling ampuh terhadap dampak negative dalam tayangan televisi adalah menciptakan keluarga yang harmonis, keluarga yang berusaha menanamkan norma luhur dan nilai agama dalam kehidupan sehari-harinya. Sekolah juga berperan aktif terhadap kelangsungan dari terbentuknya perilaku dan dan pemikiran yang positif.

BAHAYA MENONTON TELEVISI BAGI ANAK-ANAK

Banyak sekali stasiun televisi yang menayangkan film kartununtuk menarik perhatian para audiencenya, khususnya anak-anak. Film kartun pada umumnya berdasarkan pada cerita-cerita fantasi, karena itu pada umumnya anak-anak menyukai film kartun sebab sebagai media berfantasi untuk berkhayal. Kodrat daya khayal pada umumnya bersumber pada keinginan anak-anak akan kebebasan. Tetapi bila diamati lebih lanjut dalam film kartunpun ternyata mengandung adegan kekerasan, dan seringkali adegan tersebut ditunjukkan secara vulgar.

Banyaknya tayangan kartun di televisi yang banyak digemari anak-anak membuat khawatir masyarakat terutama orang tua. Kekhawatiran orang tua tersebut disebabkan karena kemampuan berpikir anak masih relatif sederhana mereka masih menganggap bahwa tayangan televisi sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Mereka masih sulit untuk memilah-milah perilaku yang baik sesuai dengan nilai dan norma agama dan kepribadian bangsa. Adegan kekerasan, kejahatan, konsumtif termasuk perilaku seksual di layar televisi diduga kuat berpengaruh terhadap daya khayal anak. Dengan menonton sesuatu yang tidak merangsang refeks dan otak akan berakibat sebaliknya yaitu emah dalam berfikir. Menonton televisi memang bisa mengistirahatkan otak. Namun bila terlalu sering akan berdampak buruk bagi seorang anak. Jika mennton televisi sang anak diarahkan pada film yang berguna dimasa depan. Film-film pendidikan atau semacamnyamungkin juga dengan acara humor yang bisa membuat tertawa, itu merupakan hal yang tidak jelek untuk ditonton.

Jika dilihat dari masalah ini pembiasan dan pengukuhan lingkungan anak dapat dibentuk melalui tayangan televisi yang sesuai dengan nilai, norma, dan kepribadian bangsa. Karena tayangan televisi setiap saat bisa ditonton anak-anak. Banyak film kartun yang memang memiliki efek yang negative bagi anak-anak. Contohnya yaitu film Crayon Shincan yang menayangkan hal-hal yang berhubungan dengan aksi-aksi pornografi dan penyimpangan seks. Tidak bisa di bayangkan apabila anak-anak kecil memiliki pandangan lain terhadap adegan-adegan fulgar yang ada dalam film tersebut. Selain film Crayon Shincan, film yang berisi kekerasan yaitu Samurai X. dengan banyaknya kekerasan dalam film tersebut sangat memungkinkan menjadikan anak-anak dibawah umur berkhayal untuk selalu ingin lebih hebat dari yang lain dan selalu ingin tampil sebagai jagoan. Film Spongebob juga bisa berakibat buruk bagi anak-anak yaitu mengajarkan anak untuk bertindak bodoh dan ceroboh serta berperilaku menyimpang. Contoh yang diberikan dalam film ini dapat dengan mudahnya. (Ardianto elvinaro,2007:83). Meskipun ide-ide cerita tersebut berupa kejadian sehari-hari yang nyata bukan berarti tidak ada kemungkinan untuk menggali cerita yang lebih bersifat khayal dalam film kartun.

Daya khayal anak merupakan bagian dari salah satu tahapan perkembangan yang sehat. Sehingga anak dalam menciptakan berbagai objek yang tidak harus sama dengan kenyataan sehari-hari dan obyek tersebut memiliki arti tersendiri baginya. Biasanya hal tersebut muncul sejak anak usia dini yaitu saat anak berusia 3-5 tahun yang merupakan masa orientasi penyesuaiannya masih belum seimbang, pada usia ini daya khayal anak mulai meluas dan belum bisa membedakan imajinasi dan kenyataan. Pada masa inilah anak dapat mengembangkan pikirannya mengenai hal-hal yang ia lihat termasuk adegan yang ada di dalam film kartun. Menurut para ahli, daya khayal ini sangat besar manfaatnya bagi perkembangan anak. Hal yang harus dilakukan orang tua adalah member rangsangan melalui tingkah laku dan percakapan. Seharusnya orang tua mengarahkannya agar bisa lebih kreatif.

SELAMATKAN ANAK DARI PENGARUH TELEVISI

Ada beberapa tips untuk menjaga anak dari pengaruh televisi. Pertama, sebaiknya orang tua lebih dulu membuat batasan pada dirinya sebelum menentukan batasan pada anak-anaknya.biasanya pada saat lelah atau bosan, orang tua suka menonton televisi. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin artinya orang tua bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh anak akan tahu ada banyak cara berkreativitas selain menonton televisi. Kedua, usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak. Yang penting, anak-anak perlu punya cukup waktu untuk bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat. Ketiga, mengikutsertakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan apa, kapan, dan seberapa banyak acara yang ditonton, tujuannya agar anak menjadikan kegiatan menonton televisi hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan. Keempat, cermati jenis program yang ditonton. Ini penting, sebab menyangkut masalah kekerasan, adegan, seks, dan bahasa kotor yang kerap muncul dalam suatu acara. Kelima, waktu. Kapan dan berapa lama anak boleh menonton televisi, semua itu bergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu mereka bersama.

PENUTUP

Jenis kekerasan yang sering muncul adalah dalam film kartun. Biasanya cerita-cerita yang tersaji dalam kartun bertema kehidupan sehari-hari anak di lingkungannya, bisa berupa kenakalan-kenakalan dalam permainan, peristiwa di sekolah, kejadian disekitar rumah atau dalam pergaulan social di lingkungannya. Orang tua sangat berperan dalam terbentuknya pola perillaku anak karena didikan dirumah lebih berpengaruh terhadap keseharian anak dari pada di sekolah, tetapi hal tersebut tidak memiliki andil dalam pengalokasian daya khayal anak terhadap perilaku anak sehari-hari. Sekolah selain tempat untuk mencari ilmu teoritis,tetapi juga mengajarkan kepada anak-anak tentang mana yang baik mana yang buruk. Oleh karena itu guru-guru dan pihak lainnya di sekolah perlu untuk lebih mengajarkan anak akan bahaya-bahaya dari televisi.

Sebaiknya anak-anak harus di budayakan baca buku bukan menonton televisi. Dengan membaca bisa memberikan ruang yang luas untuk berimajinasi mengikuti jalan cerita yang ada. Tanpa kita sadari acara-acara di televisi bisa membuat generasu muda kita menjadi rusak. Bagaimana nasib bangsa ini jika tontonan dan film-film sekarang mengajarkan kekerasan dan kejahatan pada penerus bangsa. Buruk sekali dampaknya terhadap perkembangan anak-anak padahal mereka inilah yang menjadi penerus bangsa.

REFERENSI

Nurdi.2004. Komunikasi Massa. Malang: Cespur

Darwanto.2007.Televisi sebagai media pendidikan.Yogyakarta : Pustaka pelajar

Kamus Besar Bahasa Indonesia,edisi 3 : Jakarta

Rogers,Bill.1994.Behaviour Recovery,terj.Rahayu Retnaningsih.Jakarta :Grasindo

Ardianto,Elvinaro2007..Komunikasi Massa Suatu Pengantar.Bandung:Rosdakarya

Burtn,Greame.2007.Membincangkan Televisi.Bandung : Jalasutra

www.perempuan.com

www.inspiredkidsmagazine. com

Pengaruh Negatif Media Televisi pada Perkembangan Psikologis Anak


Dini Indriani
0902832

Televisi merupakan sebuah media masa elektronik yang banyak menyuguhkan berbagai program yang menarik bagi setiap lapisan masyarakat. Selain sebagai alat untuk menyiarkan informasi, televisi juga berfungsi sebagai alat penghibur, terutama untuk anak-anak. Apalagi sekarang ini kita semua dapat melihat sendiri bahwa banyak sekali program acara yang disuguhkan untuk anak. Contohnya film kartun, robot, kuis untuk anak dan sebagainya.

Televisi memang sudah menyedot perhatian dunia sejak pertama ia ditemukan. Bahkan sampai sekarangpun televisi tetap menjadi alat elektronik yang masih banyak digemari oleh setiap orang. Sebenarnya banyak efek negatif yang ditimbulkan akibat menonton tayangan yang ada di televisi, terutama untuk anak-anak.

Efek Negatif Tayangan di Televisi pada Perkembangan Psikologis Anak

Hasibuan menyatakan,

Sebanyak 83% anak-anak usia sekolah di bawah enam tahun telah menonton televisi. Bahkan anak-anak prasekolah menghabiskan minimal 4 jam setiap hari untuk menyaksikan acara di televisi, DVD player, video games dan komputer (2007)

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa banyak waktu anak sersita hanya untuk menonton acara di televisi. Dan tentu saja ini akan menggangu waktu belajar mereka. Efek yang sangat membahayakan adalah terganggunya perkembangan psikologis mereka. Perlu kita semua ketahui bahwa banyak tayangan di televisi untuk anak tetapi di dalamnya terdapat adegan-adegan kekerasan yang sebenarnya tidak cocok untuk anak. Seperti perkelahian atau pertarungan. Orang tua biasanya menganggap bahwa film kartun atau robot itu cocok untuk tontonan anak mereka. Padahal itu belum tentu, sebab anak itu adalah peniru. Jadi, anak pada umumnya akan meniru sesuatu hal yang baru yang belum pernah ia merasakan atau mengetahui bagaimana rasanya. Anak biasanya akan memperagakan apa yang mereka lihat di televisi dengan teman-teman sebayanya seperti berkelahi, memukul temannya ataupun mempraktekannya sendiri seperti melompat, berlari dan meniru jurus-jurus yang mereka lihat di televisi. Selain itu, anak bisanya menjadi pemarah, suka membentak (membantah), berbohong dan cenderung egois ( mementingkan diri sendiri ) setelah menonton adegan kekerasan di televisi.

Peran Orang Tua

Anak dan orang tua adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Sikap dan prilaku anak tergantung pada apa yang orang tuanya lakukan. Oleh karena itu, sebagai orang tua yang baik dan sayang terhadap anak sudah seharusnya membimbing dan mengajari anak mereka dengan penuh tanggung jawab. Temanilah anak anda saat sedang menonton, serta berikan arahan dan bimbingan tentang tayangan yang sedang di tonton. Misalnya saat ada adegan kekerasan, maka orang tua harus menjelaskan bahwa tayangan tersebut sangat tidak baik untuk di tiru. Selain itu, orang tua juga harus membatasi waktu menonton anak. Sebaiknya, luangkanlah waktu untuk bermain atau berekreasi dengan anak. Dan yang paling penting adalah orang tua harus membuat jadwal kegiatan sehari-hari untuk anak mereka. Biarpun pada awalnya memerlukan cara paksaan, tetapi lama-lama anak akan terbiasa.

Kesimpulannya adalah tayangan yang ada di televisi tidak seluruhnya baik untuk ditonton oleh anak. Oleh karena itu, dalam hal ini sangat diperlukan peran orang tua untuk melakukan pengawasan, pengarahan, dan bimbingan terhadap anak mereka. Anak adalah harta yang sangat berharga yang dititipkan tuhan kepada kita. Jadi, jaga dan rawatlah anak kita dengan baik, jika bukan kita yang merawat mereka siapa lagi.

Referensi

Hasibuan. 2007. Media Televisi Dipercaya Memiliki Dampak Buruk Terhadap Psikologis Anak. [online]. Tersedia: http//kapanlagi.com.[27 Oktober 2008].

MENYELAMATKAN ANAK JALANAN DENGAN PENDIDIKAN

Nama : Maulana Malik Ibrohim
NIM : 0902888, PGSD 1 B
A. Pendahuluan
Beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia, perhatian kita banyak terhadap kehidupan anak-anak yang memprihatinkan. Hal ini didorong oleh rasa kemanusiaan dan kondisi anak yang makin terpuruk. Kini, sosok anak-anak di Indonesia tampil dalam kehidupan yang kian tak menggembirakan. Hal itu tampak dari kian meningkatnya jumlah anak jalanan dan diantara mereka adalah anak sekolah khusunya anak sekolah dasar. Hal itu bisa jadi disebabkan oleh faktor krisis ekonomi yang melanda bangsa kita akhir-akhir ini. Dan coba kita bayangkan dampak yang timbul dari hal diatas ! Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi dan moral si anak, mereka akan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. Tetapi mereka dapat kita selamatkan selaku factor lingkungan yaitu dengan memberikan pendidikan kepada mereka.
B. Isi
Anak jalanan, pada hakikatnya, adalah "anak-anak", sama dengan anak-anak lainnya yang bukan anak jalanan. Mereka membutuhkan pendidikan. Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Anak mempunyai dunianya sendiri dan berbeda dengan orang dewasa. Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja, atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta menjadi kering tak menarik. Dalam mendidik anak, ibu dan ayah harus sepaham. Mereka harus bertindak sebagai sahabat anak, kompak dengan guru, sabar sebagai benteng perlindungan bagi anak, menjadi teladan, rajin bercerita, memilihkan mainan, melatih disiplin, mengajari bekerja, dan meluruskan sifat buruk anaknya (misalnya : berkata kotor, berkelahi, suka melawan, pelanggaran sengaja, mengamuk, keras kepala, selalu menolak, penakut, manja, nakal).
Anak jalanan adalah anak yang terkategori tak berdaya. Mereka merupakan korban berbagai penyimpangan, ataupun korban kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Untuk itu, mereka perlu diberdayakan melalui rumah singgah, panti social dan pendidikan luar sekolah. Keadaan kota mengundang maraknya anak jalanan. Kota yang padat penduduknya dan banyak keluarga bermasalah membuat anak yang kurang gizi, kurang perhatian, kurang pendidikan, kurang kasih sayang dan kehangatan jiwa, serta kehilangan hak untuk bermain, bergembira, bermasyarakat, dan hidup merdeka, atau bahkan mengakibatkan anak-anak dianiaya batin, fisik, dan seksual oleh keluarga, teman, orang lain lebih dewasa.

Disamping itu tidak sedikit anak jalanan yang terjerumus pengaruh narkotika dan hal-hal semacamnya. Dilihat dari data BNN sudah ditemukan anak usia 7 tahun sudah ada yang mengkonsumsi narkoba jenis inhalan (uap yang dihirup). Anak usia 8 tahun sudah memakai ganja, lalu di usia 10 tahun, anak-anak menggunakan narkoba dari beragam jenis, seperti inhalan, ganja, heroin, morfin, ekstasi, dan sebagainya (riset BNN bekerja sama dengan Universitas Indonesia). Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus pemakaian narkoba oleh pelaku dengan tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007 berjumlah 12.305. Data ini begitu mengkhawatirkan karena seiring dengan meningkatnya kasus narkoba (lihat data narkoba BNN 2007) khususnya di kalangan usia muda dan anak-anak.

Tidak ada kata terlambat, hal tersebut juga berlaku untuk menyelamatkan anak jalanan. Salah satu upayanya adalah dengan pendidikan. Tidak hanya pendidikan formal akademis ataupun pembelajaran saja, tetapi harus dibarengi dengan pendidikan agama untuk membimbing moral anak. Sekarang sudah banyak panti-panti social dan rehabilitasi yang memberikan pendidikan dan kegiatan yang lebih bermanfaat bagi anak jalanan ketimbang hanya mengamen dan meminta-minta di terminal atau di jalan-jalan kota.

Untuk anak jalanan, menurut Ishaq (2000), pendidikan luar sekolah yang sesuai adalah dengan melakukan proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam wadah "rumah singgah" dan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), yaitu : anak jalanan dilayani di rumah singgah, sedangkan anak rentan ke jalan dan orang dewasa dilayani dalam wadah PKBM.

Rumah singgah dan PKBM itu dipadukan dengan-sekaligus menerapkan-pendekatan kelompok dan CBE (Community Based Education, pendidikan berbasis masyarakat) serta strategi pembelajaran partisipatif dan kolaboratif (participative and collaborative learning strategy).

Program pendidikan yang terselenggara itu, antara lain, dapat berupa : Kejar Usaha; Kejar Paket A (setara SD); Kejar Paket B (setara SLTP); bimbingan belajar; Diktagama (pendidikan watak dan dialog keagamaan); Latorma (pelatihan olahraga dan bermain); Sinata (sinauwisata); Lasentif (pelatihan seni dan kreativitas); Kelompok Bermain; Kampanye KHA (Konvensi Hak Anak-anak); FBR (forum berbagi rasa); dan pelatihan Taruna Mandiri (M. Ishaq, 2000 : 371)

Sebenarnya mereka adalah generasi penerus bangsa yang jika tidak dididik malah akan merusak moral bangsa nantinya, oleh karena itu tugas kita selaku masyarakat yang bernasib lebih baik dari mereka untuk merangkul dan membimbing mereka dengan cara memfasilitasi mereka.

Jika saja anak jalanan mendapat fasilitas yang memadai bukan tidak mungkin mereka akan meraih sebuah prestasi yang sangat baik, karena sebenarnya dalam diri mereka terdapat bakat-bakat yang terpendam. Mereka memiliki potensi, seperti bermain musik, melukis, dan karya seni nlainnya. Contohnya saja sudah banyak artis-artis Indonesia yang awalnya adalah seorang anak jalanan.

C. Penutup
Sekarang tinggal tugas semua lapisan masyarakat untuk bahu-membahu menyelamatkan anak jalanan agar dapat meneruskan pembangunan bangsa ini dengan prestasi-prestasi mereka dan jangan biarkan anak yang sudah ada dalam genggaman pendidikan malah terjerumus kedalam hal yang sama. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan mereka sebagai generasi penerus bangsa.


REFERENSI :
Achmad, A. 2005. “Pemberdayaan Anak Jalanan” . [Online]. Tersedia : http://www.kesrepro.info . [26 Oktober 2009]
Ariesandi.2006. “Mendidik Anak Jalanan”. [Online] Tersedia : http://www.vivanews.com. [26 Oktober 2009]
PENGARUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN ANAK: PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR ANAK

NURUL ISTIQOMAH
0902890, PGSD 1B


PENDAHULUAN

Anak dilahirkan dalam pemeliharaan orang tua dan dibesarkan dalam keluarga. Orang tua bertugas sebagai pengasuh, pembimbing, pemelihara dan pendidik terhadap anak-anaknya. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya menjadi manusia yang pandai, cerdas, dan berakhlak. Akan tetapi banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka mendidik anak-anaknya itu salah sehingga membuat anak merasa tidak diperhatikan, dibatasi kebebasannya, bahkan ada yang merasa tidak disayang oleh orang tuanya. Perasaan-perasaan itulah yang banyak mempengaruhi sikap, persaan, cara berpikir bahkan kecerdasan mereka.
Mengenal bentuk pola asuh orang tua karakteristik kepribadian setiap individu adalah unik dan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah keluarga. Keluarga merupakan lingkungan social terkecil, namun memiliki peran yang sangat besar dalam mendidik dan membentuk kepribadian seorang individu.


KELUARGA SEBAGAI PENGRUH UTAMA DALAM KEHIDUPAN ANAK

Keluarga merupakan faktor utama dan pertama dalam dalam kehidupan anak, tempat dimana ia belajarserta menyatakan diri sebagai makhluk social. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan anak ( Kartono, 1992).
Peran orang tua sangat berarti terhadap perkembangan dan kecerdasan seorang anak.orang tua adalah orang yang paling utama untuk membangun kepribadian anak sejak dini. Orang tua juga berkewajiban mendidik, merawat, dan membesarkan buah hatinya serta orang tualah yang palinh berjasa dan bertanggung jawab penuh atas perkembangan dalam kehidupan anak-anaknya. Satu lagi peran orang tua yang begitu penting bagi perkembangan seorang anak adlah orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan seorang anak karena ketika pertama kali anak melihat dunia , maka orang tualah orang pertama yang dilihatnya, maka antara orang tua dan anak mempunyai naluri dan perasaan yang peka.


ORANG TUA PENUNJANG TERBESAR UNTUK HIDUP ANAK-ANAK

Orang tua adalah lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan seorang anak. Dimana hal ini akan menjadi dasar perkembangan anak berikutnya. Karenanya dibutuhkan pola asuh yang tepat agar anak timbuh berkembang optimal. Citra diri senantiasa terkait dengan proses tumbuh kembang anak berdasarkan pola asuh dalam membesarkannya (Daryati R, 2009).
Dengan penjelasan di atas maka orang tualah yang sangat berpengaruh dan bertanggung jawab atas tumbuh kembang serta kecerdasan seorang anak. Jika orang tua mendidik seorang anak dari kecil dengan ilmu dasar yakni ilmu agama yang kokoh dan ilmu-ilmu yang baik lainnya, maka anak akan berkembang dengan baik. Tetapi sebaliknya jika orang tua tidak mengajarkan tentang dasar-dasar agama maka kecerdasan anakpun sering kali tumbuh kurang optimal.

POLA ASUH ORANG TUA

Mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuhkembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Potensi jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budipekerti.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bloom ( psikologika, 1999 ) menunjukkan bahwa bintang-bintang olahraga, seni, matematika, musik, yang sukses dididik oleh orang tuanya dengan penuh perhatian, dan selanjutnya didampingi oleh pelatih-pelatih yang profesional. Sebagai contoh adalah bintang cilik yang sedang meroket namanya seperti idola cilik, awalnya mereka dida,pingi oleh orang tuanya untuk mengikuti kontes menyanyi, dan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas cara bernyanyinya ia dididik oleh para professional dibidang tarik suara.
Oleh karena itu, untuk membangun anak-anak generasi penerus bangsa yang cerdas, optimal, dan berbudi luhur maka orang tua harus mengoptinalkan perkembangan kecerdasan anak sejak usia dini.


GENETIK MEMPENGARUHI KECERDASAN

Menurut Santrok (1992) Banyak aspek yang dipengaruhi faktor genetik. Para ahli genetic menaruh minat yang sangat besar untuk mengetahui dengan pasti tentang variasi karakteristik yang dapat diperoleh oleh faktor genetic.
Arthur Jensen (1969) mengemukakan pendapatnya bahwa kecerdasan itu diwariskan. Ia juga mengemukakan bahwa lingkungan dan budaya hanya mempunyai peranan minimal dalam kecerdasan. Menurut Jensen pengaruh keturunan terhadap kecerdasan sebesar 80%. Kecerdasan memang dipengruhi oleh keturunan tetapi kebanyakan para ahli perkembangan menyatakan bahwa pengaruh itu berkisar sekitar 50%.
Dalam riset di atas membuktikan bahwa faktor lain yang kebanyakan ikut andil dalam membangun kecerdasan seorang anak adalah faktor keturunan dari orang tuanya. Jika seorang anak dilahirkan dari orang tua yang cerdas maka kemungkinan besar anak itu memiliki kecerdasan yang optimal. Sebaliknya jika seorang anak dilahirkan dari orang tua yang memiliki kecerdasan yang sedang atau bahkan di bawah rata-rata, maka kemungkinan besar anak tersebut akan lahir dengan kecerdasan yang kurang optimal pula. Meskipun demikian, banyak faktor eksternal yang dapat mempengruhi kecerdasan seorang anak seperti peran serta orang tua dalam mendidik anak-anaknya.


PRESTASI ANAK

Prestasi belajar adalah pembuktian tentang keberhasilan dan kesempurnaan belajar seorang anak dalam menerima, menolak serta menilai informasi-infromasi yang dia peroleh dalam proses belajar mengjar di lingkungan sekolahnya. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni kognitaf, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang bulum mampu memeuhi target dalam ketiga criteria tersebut.








PENUTUP

Faktor yang paling mendasar dan pokok dalam menentukan kecerdasan anak adalah keluarga yakni orang tua, meskipun banyak faktor eksternal yakni lingkungan sekitar, maupun teman dalam pergaulan juga ikut berpengruh tetapi peran orang tua sangat besar sebagai penentu kehidupan anak-anaknya.



















REFERENSI

Daryati R. 2009. Membentuk Citra Diri yang Baik Melalui Pola Asuh dalam Membesarkan Anak
Dewi, Ismira. 2008. Mengenal Bentuk Pola Asuh Orang Tua
Kartono, Kartini. 1992. Peran Keluarga Memandu Anak. Jakarta
Liza, Dr. 2005. Pola Asuh Orang Tua Anak Menurut Psikologi dan Ajaran Rosullah
Nashori, Fuad. 2008. Studi Tentang Profil Pengasuh Orang Tua Anak-anak Berprestasi di Yogyakarta. Yogyakarta
Sumedi, Janti. 2009. “Pengaruh Pola Asuh Anak Terhadap Prestasi Siswa”. [online]. Tersedia: http:// www.google.com. [29 Oktober 2009]