Selasa, 29 Desember 2009

Teknik Pembelajaran bagi Anak Sekolah Dasar yang Hiperaktif

Eva Widia Septiani
0902914
PGSD 1-B

Pendahuluan
Dalam kehidupan Tuhan menciptakan manusia dengan beraneka ragam, diantaranya ada manusia yang diciptakan bersikap hiperaktif. Dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang anak SD yang hiperaktif. Sebagai seorang guru kita perlu tahu karakteristik dari setiap siswanya, anak yang hiperaktif biasanya berbeda dengan anak yang lain. Anak yang hiperaktif cenderung tidak bisa diam dan suka mengganggu teman disekitarnya. Untuk itu seorang guru harus tahu penyebab anak hiperaktif dan cara mengatasi anak hiperaktif tersebut.

Guru-guru sekolah dasar (SD) sebenarnya sudah memahami bahwa masing-masing anak mempunyai perbedaan dalam kemampuan kognitif, perilaku, cara belajar, penyesuaian diri, bakat, minat dan sebagainya. Hal inilah yang menjadikan guru sebagai pendidik di sekolah tak mungkin hanya menggunakan pendekatan yang disamaratakan dengan semua peserta didik. Tanggung jawab dan tugas guru menuntut pemahaman akan perbedaan masing-masing peserta didiknya, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Siswa yang sering mengganggu suasana pembelajaran, seperti jarang memperhatikan pelajaran, sering keluar kelas, mengganggu teman-temannya seperti mengambil alat-alat pelajaran temannya yang lain, membuat gaduh di kelas, jarang mau mengikuti instruksi guru, dan mudah beralih perhatian. Maka kemungkinan ia menderita ADHD atau Acid Deficit Hyperactivity Disorder atau sering kita kenal dengan sebutan anak hiperaktif. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia pra sekolah dasar atau sebelum mereka berusia 7 tahun. Masalah tersebut timbul jika mereka masuk sekolah. Anak laki-laki yang mengalami gangguan perilaku ini diketahui jumlahnya 9 kali lebih banyak dari anak perempuan. Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti apa penyebab anak hiperaktif ini. Namun diduga ada kaitanya dengan zat-zat kimia yang terdapat dalam sel otak.

Iim Imandala (2008) mengatakan “Aduh anak ini ga bisa duduk diam di bangku, jalan-jalan terus”. Demikian sedikit keluhan dari seorang guru kelas satu SD yang mengeluhkan anak didiknya karena anak itu tidak bisa diam di kelas. Akibat tidak bisa duduk diam banyak tugas-tugas belajarnya tidak selesai atau tidak dikerjakan. Teman-temannya pun menganggap ia anak nakal dan pemalas.

Sebagaimana dikemukakan oleh Taylor (1988) dalam buku Anak yang Hiperaktif“ Hiperaktivitas adalah pola perilaku pada seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsive, keaktifannya sangat tidak terarah atau jelas menjurus kea rah yang salah”. Dengan karakteristik itu, sudah tentu anak hiperaktif membutuhkan pembelajaran yang khusus dalam mengikuti pendidikan di sekolah umum.

Umumnya guru-guru SD memiliki keterbatasan dalam pemahaman anak yang hiperaktif, apa sesungguhnya hambatan dalam pembelajaran yang menjadi kebutuhan khususnya. Ditambah lagi kondisi dimana seorang guru melayani per kelas sekitar 40 orang siswa yang beragam. Jika hal ini tidak dapat perhatian, berakibat pembelajaran tidak akan mengoptimalkan potensi siswa.
Agar lebih waspada kita kenali terlebih dahulu karakteristik anak hiperaktif. Berdasarkan kajian, anak hiperaktif memiliki tiga karakteristik utama, yaitu (1) rentang perhatian yang kurang sehingga anak mudah lupa, tugas tidak tuntas, cenderung menghindari tugas (2) memiliki perilaku impulsive yang menyebabkan anak ini sulit diterima temannya karena sering merebut barang milik orang lain, banyak bicara, mengganggu tamannya (3) selalu bergerak sulit untuk duduk diam atau tenang memperhatikan, aktivitas motorik yang berlebihan, sulit mengatur kegiatan.
Berdasarkan karakteristik di atas maka jika di kelas terdapat anak hiperaktif dapat dibayangkan bahwa anak itu akan menjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Sementara guru sendiri sudah cukup sibuk untuk memperhatikan anak-anak lain. Namun demikian sebagai guru yang baik tentunya akan mencari solusi terbaik untuk mengatasi gangguan perilaku hiperaktif pada anak didiknya.
Tahap awal, observasi dilakukan sebagai langkah kebutuhan khusus siswa yang hiperaktif itu. Pendidik mengamati perilaku siswa di kelas tentang apa, mengapa dan memikirkan bagaimana solusi dalam mengatasi hambatan anak dalam pembelajarannya. Demikian juga mencari tahu dengan orang-orang yang berkaitan dengan siswa itu, misalnya orang tua dan guru sebelum mengajar, untuk melengkapi data-data yang diperlukan. Data-data ini diperlukan untuk mengetahui latar belakang hal-hal yang berkaitan dengan perilaku yang impulsif dan perkembangan hasil belajarnya.
Dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, sebelum memulai pembelajaran guru memberi penjelasan untuk menerapkan disiplin kelas dengan disepakati oleh para siswa. Tujuannya untuk menciptakan iklim pembelajaran yang tenang, dan siswa yang hiperaktif bisa mengontrol sendiri tingkah lakunya dengan kesadarnnya. Pelaksanaan pembelajaran di kelas dilakukan guru dengan guru pembimbing khusus yang dimaksudkan untuk membantu guru dalam merencanakan program pembelajaran yang diindividualkan. Dampak yang positif terlihat bukan hanya pada siswa itu, tetapi guru-guru juga memperoleh pengalaman yang bermakna. Perubahan yang nampak pada diri siswa hiperaktif itu seperti lebih bertanggung jawab mengerjakan tugas-tugas di kelas, lebih konsentrasi dalam menerima pelajaran, emosi lebih terkendali, dapat bersosialisasi seperti anak-anak pada umumnya.



Penutup
Kenyataan terlihat, apa yang telah dilakukan guru-guru membawa perubahan yang bermakna bagi siswa. Guru-guru juga bisa lebih sabar dalam melayani siswa dan merasa lebih menghayati tugasnya. Mengajar siswa yang hiperaktif adalah suatu tantangan yang membutuhkan kesabaran yang tinggi. Dengan adanya sikap optimis, jika orang mau belajar dari siswa sebagai subjek didik, hal ini akan bisa diatasi. Hal yang terpenting adalah kerja sama dan dukungan dari semua pihak terkait agar guru-guru merasa terdorong untuk selalu ingin memberi pelayanan pendidikan yang terbaik bagi anak bangsa.

Referensi
Taylor.1988.”Anak yang Hiperaktif”. Tersedia:http://www.balipost.co.id
Imandala,I.2008.”Pembelajarananakhiperaktif. Tersedia:http://www.ictjogja.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar